Milad Jelang 1 Abad Masjid Tegalsari, Prof. Dr Baiquni : Persiapkan Buku sebagai Dokumen Sejarah

 

Prof. Dr HM Baiquni, MA, siap membukukan berdirinya Masjid Tegalsari, sebagai dokumen sejarah.

SOLO, JURNALKREASINDO.com – Menjelang Milad 1 abad masjid ‘swasta’ tertua di Solo, yaitu MasjId Tegalsari yang berdiri pada Hari Minggu, 28 Oktober 1928. Pada saat itu Indonesia sedang gencar melaksanakan Sumpah Pemuda dimana-mana. “Namun sejatinya spiritnya muncul dari para pemuda dan ulama Masjid Tegalsari ini” ujar Prof. Dr HM Baiquni, MA, salah satu Trah pelaku seberdirinya Masjid Tegalsari

Ungkapan Baiquni itu diutarakan ketika memberikan tausyiah peringatan Nuzulul Qur’an, pada Sabtu (14/3/2026) di Masjid Tegalsari, Solo. Lebih jauh Ia menyampaikan, betapa pentingnya sejarah itu diangkat, dilestarikan dan didokumentasikan.sehinggadiharapkan keturunannya bisa mengikuti jejak langkahpara pendahulunya. “Yaitu sifat-sifat penuh semangat nenek moyangnya yang berjuang atas berdirinya masjid ini” tuturnya

Dalam perkembanganya organisasi remaja Masijid Tegalsari ini termasuk salah satu tonggak penting, karena dahulu nenek moyangnya sejak berdirinya masjid ini, para pemudanya yang menjadi tulang punggungnya. “Maka marilah kita lestarikan Kampung Tegalsari, masjidnya, madrasah dan pesantren  Al- Muayat dan Pesantren Taqmirul Islam yang berda disekitar Masjid Tegalsari itu. “Hal ini akan menunjukan masjid yang bersejarah dari masa kemasa” tegasnya

Diriwayatkan, ketika Sumpah Pemuda, warga disekitar kampung Tegalsari  ini menjadi spirit, tonggak, semangat kekuatan mental yang digembleng atas berdirinya masjid tersebut. bahkan dimasa perjuangan tahun 1945, masjid ini menjadi tempat laskar-laskar Hisbullah, yakni laskar-laskar pejuang Islam menempa dan mempersiapkan strategi untuk menghadapi para penjajah. “Untuk itu, para pendiri dan pengurus masjid ini termasuk orang-orang yang ditangkap dan diasingkan ke Digul” jelasnya

Para pengurus pendiri Masjid Tegalsari, bertugas untuk mencatat apa saja yang diketahuinya.

Sehubungan dengan akan disusunnya buku sejarah tentang berdirinya MasjId Tegalsari ini oleh Baiquni, maka warga disini yang mengetahui tentang sejarah masjdi ini, terutama para trah Kampung Tegalsari ini supaya mencari dan menjelaskanya sebagai referensi. “Beberapa tahun lalu, saya berkunjung ke Digul, daerah itu luar biasa banyak hutanya, sungai dan buayanya. Bisa dibayangkan sehingga orang-orang yang dibuang disana belum tentu bisa pulang” terangya

Namun kakek Baiquini, H. Syamsuri  yang juga turut diasingkan disana bisa pulang, bahkan bisa menjadi saksi sejarah dan penerus berdirinya Masjid Tegalsari itu. Pada kesempatan itu, Baiquni mencoba mencatat beberapa hal yang rencananya bakal dibukukan, menjadi dokumen, agar bisa ada yang tertulis. Masjid Tegalsari ini didesain dan dirancang dengan konsep Hablu Minal Alam. “ Hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya” katanya

Maka dari itu, di masjid ini ada blumbang (kolam) untuk bersuci sebelum masuk tempat sholat,  sehingga masuk dalam masjid dalam keadaan bersih. Hal ini sangat langka, masjid yang bangunanya dikelilingi air seperti disini. Selain itu ditengah halaman depan masjid, berdiri sebuah menara, “Dimana menara ini dulu untuk adzan, opservasi dan juga strategi dari pejuang agar tank musuh tidak bisa masuk ke masjid, kalau toh bisa masuk tetapi tidak akan bisa kembali” terang Baiquni lagi

Gapura masuk Masjid Tegalsari, mempersatukan organisasi Islam besar di Indonesia.  

Selain bangunan ini dibangun dengan konsep Hablu minal alam, juga tentu saja Hablu Minanas dan Hablu Minallah, yaitu hubungan baik dengan sesama manusia dan manembah kepada Allah, sesuai dengan ibadah dan syariatNYA. Selain itu Masjid Tegalsari ini juga sebagai pemersatu organisasi-organisasi besar Islam, seperti  Nahdlatul Ulama  (NU), Al - Islam serta Muhammdiyah. “Masjid Tegalsari ini juga dibangun dengan desain arsitektual Jawa, misalnya ada empat pilar sebagai saka guru” terangnya

Selain itu bangunanya tinggi dan juga ada bangunan yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dilingkupi, sehingga ada bangunan masjid utama (sebagai tempat sujud) dan juga ada serambi yang ini menunjukan,  bahwa masjid  punya fungsi untuk bermusyawarah dan halamannya luas untuk kegiatan pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Jadi, konsep bangunan masjid ini merupakan perpaduan antara budaya jawa, Islam dan peradaban budaya lain.

Masjid ini juga untuk melakukan kegiatan-kegiatan berdakwah yang makruf (kebaikan) dan mencegah kemungkaran, sehingga beriman kepada Allah menjadi kunci semuanya. “Kami berharap dibentuk panitia pendiri Masjid Tegalsari, untuk mengumpulkan data apa saja yang diketuhui, sehingga dapat didiskripsikan keturunan siapa, belajarnya di pesantren mana, apakah di Jawa ataukah sampai di Timur Tengah,mohon bisa diberi kejelasan, supaya dalam buku menjadi lengkap” pungkasnya. (Hong)