H. Puspo Wardoyo (berdiri, nomor 3
dari kanan) berfoto bersama dengan tamu terhormat dan para penari sekar taji.
SOLO, JURNALKREASINDO.com
– Dalam peringatan Hari Tari Dunia H. Puspo Wardoyo, owner Wong Solo Group
menerima penghargaan dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atas
jasanyanya yang selalu konsisten
mendukung pelestarian budaya Kraton. Penghargaan berupa cindera mata itu
diberikan langsung oleh GKR Wandansari, Ketua
Lembaga Dewan Adat (LDA), pada Rabu (29/4/2026) malam, di Bangsal
Smarakata.
Dalam peringatan Hari Tari Dunia itu Kraton Surakarta
menyajikan dua tarian, yaitu Bedaya Sukomulyo (karya : GKR Wandansari) dan Tari
Topeng Panji Sekartaji (karya : PB IV)
yang dihelat di Bangsal Smarakata, Kraton Surakarta.”Pak Puspo itu, kakak kelas
saya sewaktu sama-sama sekolah di SMA Negeri IV Solo” ujar Gusti Wandansari
kepada wartawan, seusai acara tersebut
Menurut Gusti Wandansari Puspo Wardoyo itu sangat perhatian
sekali dengan pelestarian kebudayaan. Kedepan kraton juga akan membentuk
sanggar pedalangan yang sudah lama sekali terbengkalai, bahkan tempatnya juga
perlu segera direnovasi. “Seperti halnya
dengan Pak Puspo yang bergerak sebagai pengusaha kuliner yang memiliki khas
tersendiri, ini juga merupakan budaya” tambahnya
GKR Wandansari, ketika meberikan
keterangan kepada wartawan seputar perhatian Puspo Wardoyo terhadap kraton.
Lebih jauh Gusti Wandansari mengatakan, dimana Puspo Wardoyo
itu sudah berulangkali dan sudah bertahun-tahun selalu memberi perhatian
kegiatan adat dan budaya kraton, bukan saja perhatian spirit, tetapi juga
suport pembiayaan. “Alhamdulillah, saya terima kasih sekali kepada Pak Puspo,
selalu maringi wedana untuk
kelancaran kami mengadakan kegiatan pelestarian budaya. Bahkan seandainya
bedaya kraton akan dipentaskan di Kalipepe Land juga boleh, ada beberapa karya
saya seperti Bedaya Sukomulyo, Kelono Ratih dan lainya yang durasinya tidak
begitu panjang” jelasnya.
Diketahui, Puspo Wardoyo yang juga pemilik distinasi wisata
Kalipepe Land, selalu berpartisipasi dan
mendukung kegiatan adat budaya yang pusatnya dari kraton, bahkan pada tahun
1998 dirinya mendapatkan gelar Kanjeng Pangeran (KP) pada zaman Sinuwun Paku
Buwono (PB) XII. “Budaya Kraton Surakarta ini harus kita lestarikan, karena
kraton ini butuh perhatian, terutama adat dan tari-tariannya, jangan sampai punah. Saya tidak tahu dan
tidak menyangka kalau malam ini mendapat penghargaan” katanya, sembari
berharap, kraton sendiri harus baik, rukun dan harus kerja sama dengan
pemerintah. (Her)



