Kajian Storyline dan Tata Pamer Keris, Upaya Menempatkan Museum sebagai Museologi Kontemporer

 

Para narasumber di seminar Storyline dan Tata Pamer Keris, dari kiri : Abdul Jawat Nur, SS MHum,  KRT Thomas Haryonagoro dan Camella Sukma Dara, SS, MA di Museum setempat.

SOLO, JURNALKREASINDO.comMuseum Keris Nusantara yang berlokasi di Solo menggelar seminar untuk mengkaji  Storyline dan Tata Pamer Keris, sebagai langkah menempatkan Sebagai Museologi Kontemporer. Kegiatan tersebut digelar pada Rabu (12/8/2026) siang. Dengan menghadirkan 3 narasumber, masing-masing KRT Thomas Haryonagoro, Abdul Jawat Nur, SS MHum dan Camella Sukma Dara, SS, MA di Museum setempat.

Dalam paparanya Thomas mengatakan, bahwa penggemar keris itu motivasinya hanya sebagai kolektor, padahal sekarang sudah menuju digital orientet. Sebinggga mau tidak mau harus sudah bisa menarik pengunjung yang lebih baik dan membudayakan keris untuk generasi penerus. “Untuk itu musem keris ini perlu dimbenahi menjadi storyline. Dengan demikian para pengujung perlu kejelasan dari mulai dari orientasi sampai pada sejarahnya” tegas KRT Thomas Haryonagoro

Thomas sebagai salah satu pendiri komite Icom Indonesia berharap yang kantornya ada di Perancis, berharap ruang pamer ini mampu menarik pengunjung yang lebih baik.Sedangkan Abdul Jawat Nur menyampaikan, keris itu bukan hanya senjata atau pusaka saja, tetapi keris merupakan cermin relasi harmonis manusia dengan alam. “Melalui pameran keris tematik, maka nilai-nilai luhur itu dapat dihidupkan  dan diwariskan” katanya

Dicontohkan keris yang bertemakan tematik, seperti ada yang namanya pamor. Dimana pamor itu terbagi menjadi berbagai jenis, ada pamor  yang bertemakan alam,. Misalnya pamor beras wutah yang memilki makna bisa mendatangkan rejeki yang berlimpah bagi pemiliknya. Pamor Udan Mas, yang diyakini membawa dapak kesuburan dan kemakmuran. “Ada lagi Pamor Tirta Tumetes, yaitu dimaknai sebagai jeki yang lumintu (turun temurun) dan lainya” jelasnya

Para pejabat Pemkot Surakarta, narasumber dan peserta seminar berfoto bersama, sebelum acara dimulai. 

Sementara itu Camella Sukma Dara memaparkan, kajian mengenai keris sebagai pembelajar, menganal sejarah pembuat keris (empu) yang sangat rumit, perlu tempaan panas, siapa saja yang membantu empu itu, sebab empu itu pasti punya asisten. Selanjutnya, membuat pamor  dan menentukan  luk dan lainya. “Aspek-aspek itu yang nantinya pengunjung bisa mengapresiasi mereka. Sehingga bisa melibatkan mereka untuk mencobanya” tuturnya

Dengan demikian museum bukan hnya sekedar ruang untuk memperlihatkan kolsi keris, namun ruang untuk meneliti, melestarikan, mengiterprestasikan, mengkomunikasikan, melibatkan masyarakat serta membangun pengetahuan. Pendektan tersebut sejalan dengan difinisi musem Icom 2022yang menempatkan interprestasi, aksesbilitas, inklusifitas, keberagaman, keberlanjutan, etika profesional, partisipasi komunitas, pendidikan, refleksi dan berbagai pengetahuan.

Jadi  moseologi tidak berhenti pada museum belaka, tetapi juga mengkaji hubungan manusia, obyek, warisan budaya, kontek sosial  dan peran museum dalam masyarakat. Keris merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia. Karena itu pengembangan Museum Keris Nusantara membuuhkan pendekatan baru dalam penyusunan storyline tata pamer dan storytelling,agar mampu menghadirkan pengalaman pengunjung yang lebih kontektual, emosional, edukatif dan imersif. (Hong)