Pelantikan Pengurus PWI Surakarta 2026 – 2031, Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH : Media dan Advokat Mitra Setara, dalam Menyampaikan Informasi Hukum

 

Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH (paling kanan, baju biru) tampak hadir diantara undangan para pejabat.

SOLO, JURNALKREASINDO.comDalam acara Pelantikan Pengurus PWI Surakarta periode 2026–2031 yang resmi diketuai Sri Hartanto itu, berlangsung pada Sabtu  (12/9/2026) malam, di The Sunan Hotel Solo. Prosesi tersebut  dilantik langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir. Dengan demikian sejak saat itulah kepengurusan baru PWI Surakarta mulai bekerja.

Diantara pejabat sebagai tamu undangan, tampak hadir, pendiri Kantor Hukum Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H. and Partners. Seusai semua rangkaian acara pelantikan pengurus PWI Surakarta  malam itu, ketika Kusuma ditemui sejumlah wartawan mengatakan, pihaknya mengapresiasi kepemimpinan baru PWI Surakarta dan menilai hubungan media dengan advokat sangat penting.

Terutama dalam penyampaian informasi hukum kepada masyarakat, sehubungan dengan hal itu, Kusuma mendukung sepenuhnya organisasi wartawan yang dinahkodai Sri Hartanto itu. “Kami mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya, selain kami  sudah mengenal baik pribadi Mas Hartanto juga  kami sering terlibat diskusi serta saling bertukar pikiran, mengenai apa saja” ujar Kusumo.

Keakraban Sri Hartanto dengan  Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H, berangkulan seusai rangkaian pelantikan,.

Menurutnya,  advokat dan jurnalis merupakan mitra setara. Artinya, Advokat membutuhkan media untuk edukasi hukum, transparansi penegakan hukum, serta menyampaikan informasi kepada publik. Sebaliknya, jurnalis juga membutuhkan sumber hukum yang akurat dan kompeten.  “Advokat dan jurnalis berada pada posisi yang setara, tanpa ada pihak yang merasa lebih tinggi atau lebih penting,”  tegasnya .

Lebih jauh Kusumo menambahkan, kemitraan tersebut semakin penting ketika menangani perkara yang menjadi perhatian publik. Ia mendorong penyampaian informasi dilakukan secara etis dan proporsional. Sementara itu, Akhmad Munir menegaskan PWI Surakarta memiliki posisi penting dalam sejarah pers nasional.

Tantangan wartawan kini semakin berat seiring cepatnya penyebaran informasi digital, termasuk ancaman hoaks, disinformasi dan teknologi deepfake. PWI Surakarta harus konsisten sebagai ujung tombak dalam diskursus pers masa depan di tengah tantangan zaman. “Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi, popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran, dan kepentingan sesaat tidak boleh mengalahkan integritas profesi,” tandasnya. (Hong)