SOLO,
JURNALKREASINDO.com -Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali
menyuguhkan perayaan seni pertunjukan bertaraf internasional di Kota Surakarta.
Berlangsung di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, SIPA 2026 mempertemukan
seniman Indo rforming Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan seni
pertunjukan bertaraf internasional di Kota Surakarta.
Memasuki tahun ke-18 penyelenggaraannya, SIPA 2026 membawa
semangat untuk menjadikan seni pertunjukan sebagai ruang ekspresi, kolaborasi,
sekaligus diplomasi budaya. Sejumlah delegasi internasional dari Jepang, Korea
Selatan, New Zealand, Taiwan, Malaysia, turut hadir bersama kelompok seni dari
berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian pembukaan SIPA 2026 diawali dengan
Opening Ceremony yang dipandu oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Direktur SIPA,
GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, Wakil Walikota Surakarta, serta perwakilan
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Direktur SIPA, Irawati Kusumorasri
dalam sambutannya menyampaikan “Di dalam tema Kinetic Kinship: Beyond
Boundaries terdapat imajinasi daya cipta tak kasat mata, dimana SIPA meleburkan
segala batasan, hanya ada ruang luas untuk mengekspresikan ide dan visi
kreatif.” ujarnya
GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo juga menyampaikan, apresiasinya
terhadap SIPA “Atas nama Mangkunegaran, kami menyampaikan apresiasi dan
penghargaan kepada SIPA serta berbagai pihak yang bekerjasama yang telah
menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya dinikmati secara visual melainkan menjadi
sesuatu yang dapat mempertemukan manusia, gagasan, dan budaya dalam satu
wadah.” tuturnya
Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani dalam sambutannya menambahkan
“SIPA memiliki arti penting untuk Kota Solo sendiri, hadirnya SIPA ini memperkuat
ekosistem pertunjukan budaya serta memperkuat status Kota Solo sebagai Kota
Budaya.” jelasnya
Sambutan juga disampaikan oleh Antonio Prakoso, Perwakilan
dari Kementrian Pariwisata RI, Antonio menyampaikan “Apresiasi kepada SIPA yang
konsisten terpilih menjadi salah satu event jajaran Karisma Event Nusantara
(KEN), ini menunjukkan konsistensi SIPA dalam menghadirkan festival budaya yang
berkomitmen menjadikan sebuah panggung yang mempertemukan beragam budaya,
mempertemukan beragam manusia serta seniman yang diperhitungkan di kancah
Internasional” paparnya
Dalam kesempatan tersebut, turut dilaksanakan penyerahan
Piagam Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai bentuk apresiasi terhadap SIPA
sebagai salah satu event yang memiliki kontribusi terhadap pengembangan
pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Opening Ceremony SIPA 2026 secara
simbolis ditandai dengan pemukulan alat musik oleh Direktur SIPA, Perwakilan
Mangkunegaran, Wakil Walikota Surakarta, serta Perwakilan dari Kementrian Pariwisata
Republik Indonesia.
Opening Ceremony ini juga di meriahkan dengan pesta kembang
api yang menjadi ikonik SIPA setiap tahunnya. Momentum tersebut menjadi penanda
dimulainya rangkaian pertunjukan SIPA 2026 sekaligus memperkuat keterkaitan
antara seni pertunjukan dengan identitas budaya Kota Surakarta. Usai prosesi
pembukaan, panggung SIPA 2026 langsung menghadirkan pertunjukan kolaboratif
yang melibatkan Ambassador SIPA 2026, Semarak Candrakirana Art Center, Sanggar
Sikambang Manih, dan ISI Padang Panjang Panjang.
Perpaduan antara seni tradisi dan eksplorasi artistik
menjadi bagian dari semangat SIPA dalam menghadirkan pertunjukan yang relevan
dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya. Rangkaian acara
dilanjutkan dengan sambutan dari Duta Besar New Zealand, Mr. Philip Taula. Kehadiran
perwakilan diplomatik tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan
budaya antarnegara melalui seni pertunjukan.
Kedutaan Besar New Zealand, Philip Nathan Taula yang turut hadir menyampaikan “Beberapa hubungan yang paling kuat yang bertahan lama, justru terletak pada hubungan budaya. Salah satu tempat kerjasama kebudayaan antara kedua negara ini adalah SIPA”. Hal ini menunjukkan komitmen SIPA menjadi fasilitator diplomasi kebudayaan antar negara. Acara dilanjutkan dengan penampilan Ohinemataroa dari New Zealand melalui karya “Kapa Haka”
.
Melalui seni tari, pertunjukan ini menjadi bagian dari
rangkaian karya internasional yang memperlihatkan bagaimana isu dan gagasan
dapat diterjemahkan melalui bahasa tubuh dan gerak. SIPA 2026 juga memberikan
ruang yang kuat bagi seni pertunjukan Indonesia. Salah satunya melalui penampilan
Kemantren Langenpraja Mangkunegaran-Surakarta. Kehadiran Kemantren Langenpraja menjadi
representasi kekayaan tradisi Surakarta yang hadir berdampingan dengan
karya-karya seni dari mancanegara.
Rangkaian pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Gaung Marawa
dari Sumatera Barat dengan karya “Tarekat (Nyanyian Surau)”. Karya tersebut
membawa kekayaan ekspresi budaya Sumatera Barat ke dalam perhelatan SIPA 2026
sekaligus memperlihatkan keberagaman seni Nusantara dalam satu panggung. Kehadiran
delegasi internasional dan kelompok seni Indonesia menjadikan SIPA 2026 bukan
sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan lintas budaya.
Melalui seni pertunjukan, masyarakat dapat mengenal beragam
ekspresi budaya dunia, sekaligus memberi kesempatan bagi seniman Indonesia
untuk memperkenalkan kekayaan seni Nusantara. SIPA 2026 kemudian ditutup dengan
penyerahan sertifikat kepada para seniman dan delegasi sebagai bentuk apresiasi
atas partisipasi mereka dalam perhelatan seni pertunjukan internasional
tersebut. Melalui seni pertunjukan, SIPA turut memperkuat peran Kota Surakarta
sebagai ruang pertemuan seni internasional sekaligus menjadikan seni dan budaya
sebagai jembatan hubungan antar masyarakat lintas negara. (Hong)



