SPPG Godog dan YASMI Berkolaborasi, Membentuk Kararter dan Kemandirian Generasi Penerus

Sutardi (kiri) dan Dr Sri Kalono, SH, MM ketika memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan.

SUKOHARJO, JURNALKREASINDO.com – Dalam melaksanakan program pemerintah tentang Makan  Bergizi Gratis (MBG), Sutardi pengelola dapur Satuan Pelayanan  Pemenuhan Gizi  (SPPG) Godog yang berlokasi di Desa Godog , Kecamatan Polokarto, Sukoharjo bekerjasama dengan Yayasan Smart Madani Indonesia (YASMI) yang dipimpin Dr Sri Kalono, SH.MM memiliki tujuan tersendiri, yakni melatih dengan membentuk kararkter dan kemandirian siswa.

Selain itu juga memperkerjakan masyarakat kalangan bawah yang mmbutuhkan pekerjaan untuk meningkatkan perkonomiannya. Sehingga relawan SPPG Godog  rata-rata terdiri dari para lanjut usia (lansia) dan janda-janda. “Sebagai umat Islam, menyantuni janda itu merupakan kewajiban dan pahalanya berlimpah, maka para relawan yang bekerja di dapur SPPG Godog ini ada beberapa yang sudah janda dan berusia lanjut usia” ujar Sutardi

Sutardi sendiri mengaku kelahiran Desa Godog itu, memiliki 5 dapur SPPG masing-masing berada di Desa Godog (Sukoharjo), Purwodadi (Grobogan), Sroyo (Karanganyar), dan Nganjuk  (Jawa Timur).  Hal itu dilakukan, selain untuk pemenuhan gizi dalam makanan, juga yang terpenting bisa juga memberikan pelatihan pembentukan kararter dan kemandirian siswa. “Kami juga ingin memberikan pelatihan pembentukan kararter “ katanya

Sebagian relawan SPPG Godog, ketika memasak di dapur yang terdiri dari para janda dan lansia.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka pihaknya menggandeng dan berkolaborasi dengan YASMI untuk dapat mencapai keberhasilan tersebut, sehingga mengemplementasikan program Gizi BerKarsa (Gizi Berbasis Karakter dan Ketahanan Pangan Sekolah).program ini lantas diajukan kepada pihak Pemkab Sukoharjo melalui Dinas Pendidikan dan kebudayaan dan ternyata mendapat  dukungan signifikan .

“Awalnya implementasi program Gizi BerKarsa bisa sukses karena dukungan signifikan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, khususnya Dinas Pendidikan setempat beserta seluruh jajarannya. Mulai dari para Kabid, Pengawas, Kepala Sekolah, Guru, hingga siswa memberikan tanggapan positif yang menjadikan program ini game changer dalam penguatan budaya sekolah” jelas Sutardi sembari menambahkan, peluncuranprogram Gizi BerKarsa dilakukan pertama kali di SDN Pranan 01, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. i

Program ini dijalankan oleh dapur SPPG Godog dan  YASMI  dalam mendukung penguatan pendidikan karakter MBG. Diketahui,selama ini, sekolah dan siswa hanya sebagai objek dalam pelaksanaan program MBG yang telah bergulir selama kurang lebih satu tahun itu. Disisi lain, SPPG Godog terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi warga sekitar. "Bahkan terbuka lapangan kerja baru” tuturnya

Para siswa SDN Pranan 01, saat mencuci ompreng setelah makan yang diawasi oleh para guru sekolah setempat.

Disini banyak janda-janda yang sebelumnya menganggur, dapat tertolong dan bisa bekerja  membantu dapur SPPG, sebagai relawan. Semetara itu, Sri Kalono menjelaskan program Gizi BerKarsa mampu mengubah paradigma tersebut dengan menempatkan sekolah dan siswa sebagai subjek aktif pembelajaran pendidikan karakter. “Kami ingin menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dan kempndirian bagi para siswa” katanya

Namun pihak SPPG Godog tetap menjaga sterilisasi dan higienisme  makanan sebelum disajikan. Jadi, ompreng (tempat makanan) yang telah dicuci para siswa di sekolah,  tetap akan dicuci ulang di dapur SPPG Godog. Program Gizi BerKarsa merupakan inovasi pendidikan yang tidak hanya mendukung pemenuhan gizi,  melainkan membangun karakter anak didik, tanggung jawab, dan kemandirian para siswa di sekolah.

Beberapa sampah organik yang siap diproses menjadi pupuk, dimasukan dalam galon.

Langkah ini bagi Kepala sekolah, guru dan pengawas memberikan dukungan positif dalam penguatan budaya sekolah. Termasuk membangun karakter dan kemandirian para siswa tersebut.  karena pelatihan yang diberikan disekolah itu, penerima manfaat MBG, yaitu para siswa yang menyantap menu makanan program MBGdilatih untuk mencuci tempat makan atau ompreng sendiri. Kemudian,  memilah sisa makanannya.

Bahkan mereka juga dilatih untuk membuat pupuk organik dari sisa makanan. Menurut Dr Kalono pendekatan transformatif ini menitikberatkan pada pendidikan karakter yang dibutuhkan bagi generasi penerus bangsa. “Biasanya, setelah menyantap menu makanan program MBG, siswa hanya meletakkan ompreng di depan ruang kelas saja, namun melalui program Gizi BerKarsa, para siswa harus  memilah sisa makanan organik dan non oraganik, untuk dibuat pupuk” tandasnya. (Hong)