Ketua Kadin Kota Solo : Pertumbuhan Ekonomi Dapat Tercapai, Solusinya Bersifat Struktural. Inilah Penjelasanya

 

SOLO, JURNALKREASINDO.com - Apresiasi yang tinggi disampaikan Ketua Kadin Kota Solo,  Ferry Septi Indrianto ketika memberi sambutan pada forum outlook ekonomi Solo Raya 2026, dihadapan sejumlah institusi maupun instansi yang hadir siang itu di Sunan Hotel yang merupakan momentum penting ini. “Kehadiran kita di sini, sebagai wujud  komitmen bersama untuk memperkuat persatuan, mempererat kerja sama” ujar Ferry

Selain itu juga melangkah maju demi kemajuan bangsa dan negara. Forum ini merupakan upaya untuk merangkum dan menggali wawasan, serta menyatukan perspektif, terutama dalam menyikapi persoalan-persoalan struktural yang selama ini mungkin belum sepenuhnya di sadari sebagai kepentingan bersama. “Soloraya hingga hari ini belum mampu menyatukan kekuatan ekonominya secara kolektif,” katanya

Bahkan dari sisi hard power maupun soft power, dalam skala kawasan yang terintegrasi, Padahal, Soloraya memiliki potensi sumber daya yang besar, kekayaan budaya dan sejarah, modal demografi yang kuat, aktivitas ekonomi yang hidup, serta didukung oleh jumlah pelaku usaha yang tidak sedikit. Tetapi, saat  potensi tersebut belum terkonsolidasi dan terintegrasi, maka ia hanya berproses sebagai aktivitas lokal dan berhenti pada batas alaminya masing-masing.

Kondisi inilah yang secara nyata membatasi capaian kinerja ekonomi, sekaligus kemampuan kita untuk mendorong pertumbuhan hingga 8 persen. Ferry mengajak membuka lagi perspektif yang lebih luas. Hari ini, capaian ekonomi negara-negara maju berada pada tingkat 5 hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan mayoritas negara Asia Tenggara. Produk Domestik Bruto per kapita negara-negara Barat berada di kisaran USD 45.000–70.000 per tahun.

sementara mayoritas negara Asia Tenggara masih berada di kisaran USD 3.000–13.000 per tahun, terkecuali Singapura. Kesenjangan capaian ini bukan terutama disebabkan oleh faktor sumber daya alam atau jumlah penduduk, melainkan oleh kemampuan negara-negara maju dalam memproyeksikan baik hard power maupun soft power ke dalam ekosistem yang lebih besar, terintegrasi, saling menopang, dan memberi nilai tambah.

Secara struktural negara-negara maju lebih mampu memproyeksikan hard power dan soft power yang kuat, terpadu, dan terintegrasi dalam kerangka yang lebih besar. Inilah yang belum sepenuhnya terbentuk di kawasan Asia Tenggara, termasuk di kawasan Soloraya. Hari ini, katanya, pertumbuhan ekonomi Soloraya relatif stabil di kisaran 5%. Jika sepakat dengan agenda Pemerintah Pusat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, maka dibutuhkan tambahan sekitar 3%


.Delta 3% ini bukanlah angka kecil. Berdasarkan berbagai kajian, tambahan ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata, dan hampir mustahil dicapai apabila kita masih menggunakan pola lama—pola yang membiarkan program antar-daerah berjalan sendiri-sendiri, tanpa konsolidasi, tanpa keterpaduan, dan tanpa skala kawasan. “Kita semua memahami , tata kelola otonomi daerah berlandaskan prinsip subsidiaritas, yang menekankan pentingnya keputusan di tingkat daerah.

Prinsip ini telah menghadirkan stabilitas dan ketertiban dalam pembangunan daerah. Namun, dalam praktiknya, prinsip subsidiaritas ini kerap dipahami secara terbatas seolah-olah kebijakan dan program harus sepenuhnya berhenti pada batas yurisdiksi administratif. “Cara pandang inilah yang secara nyata melahirkan fragmentasi kebijakan dan program antardaerah.” Jelasnya sembari menambahkan,  jika dibiarkan secara struktural, kondisi ini akan mendegradasi potensi itu sendiri . Potensi  yang sejatinya saling terhubung, namun tidak pernah terakumulasi menjadi daya ungkit kawasan. Inilah persoalan struktural Soloraya hingga hari ini.

Persoalan serupa juga terjadi di banyak wilayah lain di Indonesia, khususnya kawasan eks-karesidenan. Oleh karena itu, jika kita sepakat bahwa persoalan ini bersifat struktural, maka konsekuensinya solusinya tidak bisa lagi bersifat parsial, sektoral, atau jangka pendek. Solusinya juga harus bersifat struktural.” kata Ferry. (Hong)

 

.