Kraton Surakarta Gelar Kirab Pusaka dengan Cucuk Lampah 5 Kebo Bule Di Malam 1 Sura

GKR Panembahan Timoer Rumbay Dewayani (tengah), ketika memberikan keterangan kepada beberapa wartawan,

SOLO, JURNALKREASINDO.com - Atas Dawuh Dalem Sri Susuhunan Pakubuwono XIV, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan menyelenggarakan Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura Tahun Be 1960 atau 16 Juni 2026 dengan cucuk lampah 5 kebo bule (kerbau albino). Upacara adat ini sebagai bagian dari tradisi adat dan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun di lingkungan Kraton Surakarta.

Ungkapan itu diutarakan GKR Panembahan Timoer Rumbay Dewayani, Pengageng Sasana Wilapa didampingi KPAA Nurwijaya Adiningrat, Peganggeng Paranpara Karsa  kepada sejumlah watawan pada Selasa (9/6/2026) di Talangpaten, Kraton Surakarta . “Upacara ini merupakan agenda rutin tahunan yang telah dilaksanakan para Sinuhun terdahulu, sebagai warisan budaya adiluhung Kraton Surakarta “ tuturnya

 Tradisi tersebut hingga saat ini tetap dilanjutkan, dijaga, dan dilestarikan Sri Susuhunan Pakubuwono XIV sebagai bentuk komitmen dalam merawat kesinambungan adat, budaya, serta nilai-nilai luhur peninggalan para leluhur. Kegiatan ini memiliki landasan historis, kultural, dan adat yang kuat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi Kraton Surakarta, sehubungan itu pihak  kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga marwah, kehormatan, dan kesakralan tradisi Kraton.

“Kami berharap tidak ada pihak-pihak tertentu yang menyelenggarakan kegiatan tandingan atau menciptakan dualisme acara yang berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat serta dapat mengurangi nilai adat, keluhuran budaya, dan kesakralan Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura. Kami tegaskan, masyarakat telah mengetahui pihak-pihak yang selama ini secara konsisten menyelenggarakan acara tandingan dan menciptakan dualisme kegiatan Kraton” tandasnya

Hal itu terjadi  sejak era Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, katanya, tindakan tersebut tidak hanya menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, tetapi juga berpotensi merongrong marwah, kewibawaan, legitimasi adat, serta keluhuran budaya Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Untuk itu.”Kami berharap dan mengimbau agar praktik-praktik yang memicu dualisme tidak kembali terjadi” jelasnya

Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura bukan sekadar seremoni budaya, melainkan manifestasi dari warisan spiritual, filosofi, dan nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat menghormati dan mendukung pelaksanaan tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa. (Hong)