Makanan Siap Saji Menjadi Pilihan Bagi Jemaah Haji Asal Indonesia di Armuzna

H.Puspo Wardoyo (nomer tiga dari kiri), ketika berbincang-bincang dengan sejumlah jemaah haji asal Indonesia.

SURAKARTA, JURNALKREASINDO.com -. Di tengah padatnya aktivitas dan tantangan distribusi konsumsi selama puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), makanan siap saji justru mendapat penilaian lebih baik  dan menjadi pilihan dibanding makanan segar yang selama ini disediakan katering setempat. Makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) produksi Indonesia yang didistribusikan kepada jemaah haji di Arab Saudi menuai respons positif.

Salah satu jemaah haji asal Indonesia melalui akun Tiktok@quinakuembunku yang sedang menyantap semur ayam produk PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI). Dalam video unggahannya ia mengaku rasa semur ayamnya autentik dan benar-benar sesuai dengan lidah orang Indonesia. “Ini ada nasi uduk, ayamnya itu irisannya besar-besar seperti ini, terus disini juga ada kentang, kita cobain kentang lembut sekali, dan rasanya autentik bener-bener sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ujarnya dalam video tersebut.

Hal serupa juga diunggah oleh akun @kang.susanto yang turut memberikan respon positif produk RTE tersebut.  Jumlah  lauknya segini banyak sama seperti jumlah nasinya,  saat memperlihatkan produk rendang daging. Menanggapi respon tersebut, Owner PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI), Puspo Wardoyo mengatakan, mayoritas jemaah menyukai menu RTE karena cita rasanya lebih dekat dengan lidah masyarakat Indonesia. “Komentar yang kami terima, makanan ini lebih enak daripadamakanan fresh. Bumbunya lebih terasa dan rasanya lebih Indonesia,” ujarnya Puspo Wardoyo  

Menurut Puspo, penggunaan RTE pada musim haji 2026 bukan tanpa alasan. Saat seluruh jemaah mulai bergerak menuju Armuzna, sebagian dapur katering juga harus berpindah lokasi sehingga distribusi makanan segar menjadi lebih sulit. Saat memantau proses distribusi makanan haji di Arab Saudi, Puspo menjelaskan pada 7 Zulhijah, jemaah mendapatkan tiga kali makan menggunakan RTE, yakni sarapan, makan siang, dan makan malam. Sementara pada 8 Zulhijah, RTE diberikan untuk sarapan sebelum jemaah bergerak menuju Mina dan Arafah.

Selama berada di Armuzna, skema konsumsi dilakukan secara hybrid. Dari lima belas  kali makan yang diterima jemaah, tiga kali menggunakan RTE  full meal ( Nasi dan lauk ), enam kali makan Lauknya RTE -Nasi Fresh dan enam kali lainnya berupa makanan segar. Respons positif dari jemaah membuat muncul harapan agar menu siap saji khas Indonesia tersebut tidak hanya diberikan saat puncak haji. “Jadi dengan adanya kehadiran RTE ini, mereka senang dan variasi. Harapannya mungkin tidak hanya di Armuzna, mungkin nanti kalau ke depan ya di Madinah maupun Makkah juga bisa diberikan sebagai variasi,” kata Puspo usai mendengar komentar pada jemaah haji tentang produknya.

Beberapa menu yang disajikan antara lain semur ayam, semur daging, rendang ayam, rendang daging, balado ikan, gulai ikan, hingga empalserundeng. Menurutnya, menu-menu tersebut memberikan alternatif rasa yang berbeda dibanding makanan yang biasa diterima jemaah selama berada di Arab Saudi. Puspo mengatakan distribusi makanan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji. Suhu udara yang mencapai 50 derajat Celsius, kepadatan jutaan jemaah, hingga keterbatasan akses distribusi sering menyebabkan keterlambatan bahkan kerusakan makanan. “Kondisi saat itu memang cukup sulit. Karena staff dan karyawan dapur juga bergerak ke Armuzna dan akses distribusi juga terbatas, makapemerintah mengarahkan penggunaan makanan RTE,” ujarnya.

Tak hanya membantu jemaah, kehadiran RTE juga meringankan beban operasional dapur katering yang harus memasak dalam kondisi cuaca ekstrem dan infrastruktur terbatas. “Dapur juga terbantu karena kondisi di Armuzna sangat berat. Infrastruktur terbatas dan proses memasak dilakukan dalam suhu yang sangat panas,” jelasnya sembari menambahkan, Pemerintah Arab Saudi bahkan mulai melirik makanan siap saji sebagai salah satu solusi masa depan pelayanan konsumsi jemaah haji karena lebih praktis, higienis, dan mudah didistribusikan. Selain itu, penerapan aturan yang lebih ketat oleh Pemerintah Arab Saudi terhadap akses masuk Makkah dan Armuzna juga membuat pelaksanaan haji tahun ini dinilai lebih tertata dibanding tahun-tahunsebelumnya. (Her )