Pertunjukan Simfoni Tradisi dalam Eksperimental Global, Perkenalkan ‘Gondrong’ Gunarto sebagai Ambassador SIPA 2026

Dr. R. Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn, ‘Gondrong’ Gunarto dan Maretha Dinar Cahyono, S.E, ketika berfoto bersama, seusai jumpa pers.

SOLO, JURNALKREASINDO.com – Solo International Performing Arts (SIPA) dengan bangga memperkenalkan ambassador yang akan menjadi wajah dari SIPA 2026 mendatang. Dalam perhelatan seni pertunjukan bertaraf international ini, SIPA menggandeng ‘Gondrong’ Gunarto sebagai figur inspiratif yang merepresentasikan semangat eksplorasi, keberagaman, dan keberlanjutan budaya Indonesia.

Pemilihan’Gondrong’ Gunarto sebagai Ambassador SIPA 2026 bukan tanpa alasan. Sosoknya dikenal sebagai musisi sekaligus komposer yang konsisten mengembangkan musik kontemporer berbasis tradisi, khususnya gamelan. Lahir dan tumbuh di lingkungan seni tradisional, ia merupakan putra seorang dalang yang sejak awal telah akrab dengan nilai-nilai budaya Jawa yang kental. Perjalanan musikalnya dimulai sejak tahun 1993 ketika ia mulai menekuni musik kontemporer.

Ia melalui proses kreatif di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dari titik tersebut, ‘Gondrong’ Gunarto terus bereksperimen dengan berbagai aliran musik, menggabungkan unsur tradisional dan modern hingga melahirkan karya-karya yang unik, berani, dan penuh eksplorasi artistik. Sepanjang kariernya, “Gondrong” Gunarto telah tampil di berbagai panggung internasional bergengsi, mulai dari World Gamelan Festival di Malaysia, Sapporo Musik festival di Jepang.

Bahkan hingga festival seni di Eropa dan Amerika Serikat. Ia juga terlibat dalam berbagai kolaborasi lintas budaya yang mempertemukan gamelan dengan musik global, menjadikannya sebagai salah satu figur penting dalam diplomasi budaya Indonesia melalui seni pertunjukan. Selain aktif sebagai performer, ia juga dikenal sebagai komposer dan music director dalam berbagai pertunjukan besar, baik di dalam maupun luar negeri. Dedikasinya dalam mengembangkan musik kontemporer berbasis tradisi.

Hal ini  menjadikannya simbol seniman yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorongnya untuk terus relevan di era modern. Sebagai Ambassador SIPA 2026 “Gondrong” Gunarto diharapkan mampu menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi, serta menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai seni budaya Indonesia. Kehadirannya juga memperkuat positioning SIPA.

Terutama sebagai ruang kolaborasi global yang mempertemukan berbagai ekspresi seni dari beragam latar belakang budaya. SIPA sendiri merupakan salah satu festival seni pertunjukan internasional yang secara konsisten menghadirkan seniman dari berbagai negara sekaligus menjadi ruang interaksi budaya yang inklusif dan dinamis. Melalui penunjukan ambassador tahun ini, SIPA semakin menegaskan komitmennya dalam menghadirkan karya-karya seni. 

Paparan tentang profil , ‘Gondrong’ Gunarto, sebelum acara temu wartawan dimulai.

Tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan kultural yang kuat. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, SIPA 2026 diharapkan mampu kembali menjadi panggung apresiasi seni yang tidak hanya membanggakan Kota Surakarta, tetapi juga Indonesia di mata dunia.  ‘Gondrong’ Gunarto,  sosoknya  dinilai mampu merepresentasikan semangat SIPA yang menjunjung tinggi keberagaman, inovasi, serta keberlanjutan budaya Indonesia di kancah global.

Profil ‘Gondrong’ Gunarto

Gondrong Gunarto dinilai mampu merepresentasikan semangat SIPA yang menjunjung tinggi keberagaman, inovasi, serta keberlanjutan budaya Indonesia di kancah global. Penunjukkan ‘Gondrong’ Gunarto sebagai Ambassador SIPA 2026 mempresentasikan semangat SIPA yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga terus bergerak melalui eksplorasi dan inovasi. Ia lahir di Ngawi, Jawa Timur, sebagai  musisi dan komposer yang telah aktif berkarya sejak tahun 1990-an.

Berangkat dari latar belakang keluarga seni tradisional, ia mengembangkan eksplorasi lintas genre yang memadukan unsur tradisional dan modern, sehingga melahirkan karya-karya musik kontemporer yang unik dan eksperimental.  Sepanjang karirnya, ia telah tampil di berbagai festival internasional bergengsi seperti World Gamelan Festival di Malaysia, Sapporo Music Festival di Jepang, hingga pertunjukan di Eropa dan Amerika Serikat.

Pengalaman tersebut menjadikannya sebagai salah satu seniman Indonesia yang konsisten membawa gamelan dan musik tradisional ke panggung dunia. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, bapak Maretha Dinar Cahyono, S.E dalam sambutan nya mengatakan, pihaknya mendukung penuh penyelenggaraan SIPA, karena merupakan salah satu event ikonik Kota Surakarta yang rutin diselenggarakan setiap tahun.

Kehadiran SIPA tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan potensi UMKM lokal, ekonomi kreatif, dan sektor pariwisata. Kami juga bangga,  karena SIPA termasuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN), yang semakin menguatkan posisinya sebagai event unggulan berskala internasional.

Direktur SIPA, Dr. R. Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn., turut menyampaikan bahwa pemilihan ambassador tahun ini “SIPA 2026 memilih Gondrong Gunarto, karena dedikasi dan karya-karyanya di musik kontemporer Indonesia yang bisa diterima oleh semua kalangan baik tua maupun muda” SIPA 2026 akan kembali diselenggarakan di Pamedan Pura Mangkunegaran Surakarta, sebagai pusat perhelatan seni yang menghadirkan seniman dari berbagai negara.

Mengusung ‘Kinetic Kinship : Beyond Boundaries’, festival ini akan menghadirkan beragam rangkaian acara mulai dari pertunjukan seni, kolaborasi internasional, hingga pemberdayaan UMKM melalui SIPA Urban Market. Penunjukkan ‘Gondrong’Gunarto sebagai Ambassador SIPA 2026 mempresentasikan semangat SIPA yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga terus bergerak melalui eksplorasi dan inovasi Lahir di Ngawi, Jawa Timur.

Ia merupakan musisi dan komposer yang telah aktif berkarya sejak tahun 1990-an. Berangkat dari latar belakang keluarga seni tradisional, ia mengembangkan eksplorasi lintas genre yang memadukan unsur tradisional dan modern, sehingga melahirkan karya-karya musik kontemporer yang unik dan eksperimental Sepanjang karirnya.  (Hong)