Yuwida Salma Lova, ketika memberikan
keterangan kepada sejumlah wartawan.
BOYOLALI, JURNALKREASINDO.
com – Menanggapi adanya protes dari Lembaga Pengembangan Anak Indonesia
(LPAI), Kepala SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) Gagaksipat 2 Ngemplak,Boyolali
, Yuwida Salma Lova menegaskan, menu yang
disajikan untuk MBG (makan bergizi gratis) yang dibagikan diwilayahnya, sudah
sesuai dengan Jukniis (petunjuk teknis) Badan Gizi Nasional (BGN) yang
ditentukan. “Kami tetap menjaga sterilisasi menu MBG dan sesuai dengan Juknis
Badan Gizi Nasional” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Senin (23/2/2026) di
kantornya
Yuwida juga menyampaikan,
harga menu untuk balita, KB, TK, hingga siswa SD kelas I–III sebesar Rp 8.000
per porsi, bukan Rp10.000 per porsi. “Untuk harganya itu ada roti Joy isi
daging ayam Rp 4.050 per pcs, itu harga reseller, sosis oven isi daging Rp2.500
per pcs, dan pisang Ambon Rp1.450 per pcs” rincinya. Jadi pihaknya tidak
memberikan di bawah nilai Rp 8.000 untuk porsi kecil atau di bawah Rp10.000
untuk porsi besar.
Sehingga kandungan
gizinya, karbohidrat diperoleh dari roti, protein dari isian daging ayam dalam
roti dan sosis oven daging ayam, sedangkan pisang Ambon menjadi sumber serat,
vitamin dan mineral. “Untuk energi porsi kecil ada 239,5 kkal, rinciannya
protein 8,4 gram, lemak 5,7 gram, karbohidrat 38,1 gram, dan serat 1,5 gram.
Yang porsi besar 352,3 kkal energinya, protein 16 gram, lemak 11,2 gram,
karbohidrat 48,4 gram, dan serat 1,9 gram” terangnya
Terkait menu susu dan telur, telah dijadwalkan dua kali
dalam sepekan, tidak setiap hari dan tidak dirapel. Untuk bahan baku, ia menyebut SPPG Gagaksipat
2 mencari produk yang telah bersertifikasi halal serta memiliki izin PIRT dan
BPOM. Ungkapan itu diutarakan atas adanya keluhan warga Gagaksipat sekaligus
Ketua LSM Pengembangan Anak Indonesia, Dewi Ritaningsih yang mengatakan,
sekolah di daerahnya menerima menu MBG Ramadan perdana setelah libur satu pekan.
Rita menjelaskan, sekolah menerima paket MBG sekitar pukul
07.00 WIB. “Kami mendapatkan menu roti, sosis, dan pisang. Ini semisal
dihitung, roti Rp2.000, sosis Rp2.000, pisang Rp2.000, kan baru Rp 6.000, bahkan
mungkin harganya kurang dari itu. Paling tidak ya ada susu atau telur,” jelasnya,
sehingga disayangkan menu tersebut dinilai belum sesuai dengan anggaran yang
tersedia.
Menurutnya, saat Ramadan, menu makanan yang diberikan berupa
paket kering, jadi tenaga kerja yang dibutuhkan tidak sebanyak di luar Ramadan.
(Her )


