SOLO,JURNALKREASINDO.com - Sebagian orang masih ada yang merasa khawatir akan datngnya masa depan, sehingga menganggap pintu rejeki seolah tertutup rapat, akibatnya malah menjadi beban hidup yang dihadapinya terasa menjadi berat. “Di saat-saat seperti itu, seringkali kita terjebak dalam logika manusia. Dimana keajaiban bisa saja datang setiap saat, setelah kita berani melangkah untuk bersedekah, karena dengan jalan memberi itu merupakan kunci pintu rejeki” ungkap BRM. Dr.Kusumo Putro, SH.MH, pemerhati budaya dan spiritual itu
Mungkin saja mereka, kata Kusumo, beranggapan bahwa bagaimana
bisa memberi, jika dirinya sendiri masih kekurangan? Namun, ada sebuah hukum alam semesta dan
janji Illahi yang ternyata mampu melampaui logika matematika manusia. Hukum itu
sederhana, namun dampaknya luar biasa, sehingga keajaiban akan menghampiri. "Berilah
makanan dan minuman ketika saudaramu atau orang lain perutnya sedang lapar maupun
kehausan." ujarnya
Hal ini mungkin terdengar paradoks,tetapi yakinlah, mulai
detik itu juga, rejekimu tidak akan pernah putus, bahkan akan selalu berlimpah.
Lalu, mengapa memberi menjadi kunci membuka pintu rejeki? Dalam berbagai ajaran
spiritual dan agama, bahwa memberi ,bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan sebuah
energi. “Karena ketika seseorang memberikan sesuap nasi atau segelas air kepada
orang yang membutuhkan, maka Ia sedang
mengirimkan sinyal kuat kepada Alam Semesta dan Sang Pencipta sebagai ‘Saluran’, bukan ‘penyimpan’"tandasnya
Diketahui, Allah SWT telah menjamin dalam firmannya, bahwa
barang siapa yang menolong hamba-Nya di dunia, maka Allah akan menolongnya di
akhirat (dan tentu saja di dunia). Rejeki itu ibarat air, yang hanya akan mengalir deras jika salurannya
terbuka. “Jika kita menutup kran pemberian, karena takut habis, maka aliran berrkah
pun akan ikut terhenti. ” paparnya
Namun sebaliknya, ketika tangan seseorang itu terbuka untuk
memberi makan orang lapar, berarti sedang membuka kran rahmat yang tak
terbatas. Hal ini Jadikan kebiasaan, bukan hanya sekadar Momen saja. Pesan
utama yang bisa dimaknai bukan hanya sekali memberi, melainkan konsistensi. "Jadikan
setiap Harimu memberi makan dan minum kepada Saudaramu atau orang lain
dimanapun dirimu berada." saran Kusumo sembari menambahkan, langkah ini secara
spiritual memiliki arti, bahwa kebaikan tidak harus menunggu sudah kaya raya. Misalnya,
saat anda membeli jajanan, belilah lebih dari satu untuk diberikan kepada pengemis atau
anak jalanan.
Begitu juga saat makan siang di kantor, sisihkan sebagian
untuk rekan kerja yang mungkin belum sempat makan atau petugas kebersihan, ketika
aat traveling, jangan ragu mentraktir warga lokal atau menyumbang makanan di
tempat singgah dan seterusnya.
Lokasi tidak Membatasi
Rejeki
Niat tuluslah yang menjadi magnetnya. Dengan menjadikan
memberi, sebagai rutinitas harian yang dijadikan sebuah lifestyle, hal ini melatih
hati untuk tidak tamak dan melatih jiwa untuk selalu bersyukur. Rejeki dan kebaikan
itu akan mengikuti Langkah orang yang
dermawan. Rejeki serta segala kebaikan
dari Allah dan Alam Semesta akan selalu mengikuti setiap langkah dalam
Kehidupan manusia. “Perhatikan kata ‘mengikuti’, anda tidak perlu mengejar
rejeki dengan cara yang menghalalkan segala jalan. Anda tidak perlu stres
memikirkan besok. Cukup fokus pada langkah kaki anda hari ini: apakah langkah
itu membawa manfaat bagi orang lain?” tambahnya
Jika ya, maka rejeki akan datang mengejarmu, rejeki bisa datang dalam bentuk rejeki materi,
seperti uang yang tak terduga, diskon
rezeki atau bisnis yang tiba-tiba lancar. Demikian juga akan dinaungi Rejeki
Non-Materi, contohnya kesehatan yang prima, ketenangan hati, keluarga yang
harmonis dan pertolongan di saat sulit.Rejeki Sosial, misalnya jaringan
pertemanan yang luas, rasa hormat dari lingkungan dan dukungan orang-orang baik.
“Jangan menunggu, mulailah dari sekarang, jangan menunggu nanti kalau sudah
punya banyak. Sebab kelaparan dan kehausan saudara kita tidak bisa menunggu”
pesanya
Kusumo juga menyampaikan, rjeki yang berlimpah adalah buah dari tindakan nyata hari ini. jadi, mulai detik ini, ubah pola pikir, jangan memaknai memberi sebagai engeluaran, tapi lihatlah sebagai investasi abadi dan pembersih jalur rejeki. Karena pada akhirnya. “Kita tidak kehilangan apa pun saat memberi. Kita justru mendapatkan kembali segala-galanya, berkali-kali lipat, dari Dzat Yang Maha Pemberi. Selamat memberi, selamat menerima keberlimpahan” pungkas Kusumo menutup wawancaranya kepada sejumlah wartawan di kantornya. (Hong)


