BRM. Dr. Kusumo Putro, ditengah-tengah
kegiatan budaya yang selalu dimaknai sebagai ajaran yang bermakna filosofi
tinggi.
SOLO,
JURNALKREASINDO.com –makna filosofi
Jawa Urip mung mampir ngombe merupakan
pegangan hidup yang mampu menuntun manusia supaya tetap rendah hati, bersyukur
dan tidak larut dalam gemerlap dunia. Ungkapan itu diutarakan BRM. Dr Kusumo
Putro, SH.MH, pemerhati budaya asal Solo
ini. “Kesadaran akan singkatnya kehidupan itulah yang seharusnya membuat
manusia tidak mudah terjebak dalam kesombongan, sebab jabatan, kekayaan, maupun
popularitas hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa hilang” ujarnya
Jadi, menurut Kusumo dalam pandangan budaya Jawa, semakin
seseorang menyadari kefanaan hidup, semakin besar pula rasa syukur dan kerendahan
hatinya. sedangkan kata ngombe (minum)
bukan hanya dimaknai sebagai aktivitas menghilangkan dahaga. Tetapi ngombe itu merupakan simbol dari upaya
manusia mencari kebahagiaan dan ketenteraman hidup. “Kebahagiaan sejati bukan
berasal dari melimpahnya harta atau tingginya kedudukan” katanya
Terjebak dalam
Kesombongan
Kesadaran akan singkatnya kehidupan itulah yang seharusnya
membuat manusia tidak mudah terjebak dalam kesombongan. Jabatan, kekayaan,
maupun popularitas itu hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa hilang. “Dalam
pandangan budaya Jawa, semakin seseorang menyadari kefanaan hidup, semakin
besar pula rasa syukur dan kerendahan hatinya” paparnya
Makna yang sejatinya ajaran tersebut menjadi benteng mental, agar manusia tidak mudah goyah menghadapi
dinamika kehidupan. Artinya, orang itu aja
gumunan, tidak mudah heran (iri ), ketika melihat orang lain lebih
berhasil. Sebab setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. “Sedangkan
aja getunan, dimaknai sebagai sikap
tidak mudah larut dalam penyesalan atas kesalahan masa lalu” tambah ketua Forum
Budaya Mataram itu
Menurut wawasanya, kesalahan merupakan bagian dari proses
belajar yang harus diambil hikmahnya. Lain leagi dengan filosofi aja Kagetan yang mengajarkan agar
manusia memiliki kesiapan mental menghadapi perubahan. “Kehidupan ini selalu
berputar, kadang berada di atas, kadang di bawah, karena itu, seseorang tidak
boleh mudah panik ketika menghadapi cobaan atau terlalu larut dalam euforia
saat memperoleh keberhasilan” tutur Kusumo lagi
Tekanan Psikologis
Di tengah derasnya arus informasi digital, filosofi Jawa ini
justru terasa semakin penting. Saat ini, tidak sedikit generasi muda yang
mengalami tekanan psikologis, akibat membandingkan kehidupannya dengan apa yang
tampil di media sosial. Jumlah pengikut, popularitas, gaya hidup, hingga
kekayaan sering kali dijadikan ukuran keberhasilan. Padahal, menurut Kusumo, semua
itu hanyalah bagian dari ‘minuman’ dalam kehidupan yang pada saatnya dinikmati,
namun tidak ada yang bersifat abadi.
Dengan demikian amal kebaikan, manfaat bagi sesama, dan nama
baik yang pernah dilakukan akan tinggalkan,
karena itulah, falsafah Urip Mung Mampir Ngombe mengajarkan agar manusia tidak
menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai tempat menanam
kebaikan untuk bekal kehidupan yang kekal. Di tengah kehidupan modern yang
serba cepat, falsafah Jawa ini mengajak setiap orang untuk memperlambat langkah
sejenak, merenungkan makna kehidupan, serta kembali menata prioritas.
Hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling kaya atau
paling terkenal, melainkan kesempatan
singkat untuk berbuat baik, menjaga hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan memahami makna Urip Mung Mampir Ngombe, kita mampu menjalani hidup dengan lebih
tenang, tidak terburu-buru mengejar hal-hal yang"Semoga dengan memahami
makna Urip Mung Mampir Ngombe, kita
mampu menjalani hidup dengan lebih tenang, tidak terburu-buru mengejar hal-hal
yang fana. (Hong)


