Pekan Se.Daya.Di 2026 Suguhkan Seni, Budaya dan Tradisi, Walikota : Siap Menghadapi Tantangan Potensi Wisata Kedepan

 

Walikota Surakarta, Respati Achmad Ardianto (nomor 3 dari kiri), berfoto bersama jajaran panitia Se.Daya. Di, seusai jumpa pers.

SOLO, JURNALKREASINDO.com -  Taman Balekambang menjadi ruang pertemuan Pekan se.daya.di.surakarta 2026. Gelaran itu bakal dihelat selama 7 hari, muli tanggal  1 – 7 November  2026 mendatang. Kegiatan ini mempertemukan seni dan budaya dengan pelaku ekonomi kreatif, melalui berbagai program yang membuka ruang interaksi, pertukaran pengetahuan, dan pengalaman bersama masyarakat.

Walikota Surakarta, Respati Achmad Ardianto mengatakan, pemerintah kota memiliki visi pada tahun 2030 sebagai salah satu kegiatan untuk menghabungkan seni, budaya dan ekonomi kreatif yang hingga kini selalu meningkat. “Sekarang ini banyak pelaku baru, dengan begitu IT baru dan juga marketnya baru semua. Sehingga kita sebagai kota yang punya branding ekonomi kreatif, seni dan budaya. Sehingga kota Solo siap menghadapi tantangan potensi  wisata yang ada” katanya

Namun kalau tidak bisa merevolusi atau merubah, maka akan terus menurun. Tetapi  ini bagi pelaku seni dan ekonomi kreatif di Kota Solo ini, sehingga membanggakan, maka Pemkot Surakarta akan memfasilitasi dan membuat ekosistem untuk menarik daya wisata. “Kita harus mau berubah, event-event yang lama harus mampu beradaptasi. Namun yang terpenting masyarakat mampu melakukan bisni modern, karena suatu event yang bisa berulang tidak bergantung intervensi dari sponsorship” tandasnya

Sedangkan Maretha  Dinar Cahyono, SE, MM, selaku Kepala Dinas Kebudyaan dan Pariwisata Surakarta menyampaikan, makna Sedaya itu kabeh (semua -red) dalam satu kegiatan. Jadi semua kegiatan yang ada di Kota Solo akan dilaksanakan, baik seni, budaya maupun tradisi. Sehingga akan berlangsung secara jangka panjang. “Dimana semua itu akan berkolaboratif dengan berbagai kegiatan yang mampu menunjang keuntungan melalui ekonomi kreatif” tuturnya

Mengedukasi Masyarakat

Anita, salah satu manager dari BTN Surakarta yang turut mendukung terselenggaranya acara tersebut menjelaskan, dengan hadirnya kegiatan tersebut yang berlangsung selama 7 hari, maka pihaknya juga akan mengedukasi masyarakat dalam menggunakan transaksi Perbankan. “Supaya masyarakat juga mengerti  bagaimana menggunakan secara bijak, sehingga masyarakat tidak mudah tertipu dengan judol-judol, cara mengajukan kridit untuk UMKM dan lainya” jelasnya

Dari kiri : Tatuk Marbudi, Maretha  Dinar Cahyono dan Anita ketika memberikan ketrangan kepada warawan. 

Ungkapan itu terlontar pada jumpa pers, pada Minggu (25/10/2026) di Museum Radya Pustaka, Solo. Pekan se.daya.di.surakarta 2026 itu melibatkan lebih dari 100 kolaborator dari berbagai bidang dan menargetkan 20.000 kunjungan audiens selama tujuh hari. "Melalui semangat Collect, Connect, Collab, Pekan se.daya.di.surakarta menjadi ruang bagi pelaku seni dan budaya, komunitas, kreator, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat” ujar Tatuk Marbudi, Direktur Festival se.daya.di.surakarta.

Dengan tujuan untuk saling menemukan, serta membangun kolaborasi. se.daya.di.surakarta 2026 ingin membuka kesempatan bagi berbagai pihak untuk terlibat dan melahirkan karya-karya baru yang relevan untuk kini dan ke depan. Se.daya.di.surakarta merupakan platform aktivasi berbasis seni, budaya, dan tradisi yang berkolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif di Surakarta. Berangkat

dari nilai keselarasan, keseimbangan, dan harmoni yang dimaknai melalui Loro Blonyo, se.daya.di membuka ruang bagi tradisi dan ekspresi kontemporer untuk berjumpa dan berkembang bersama.

Berkah Kehidupan Bersama

"Setiap inisiatif berawal  dari gagasan, berproses untuk tumbuh, dan menemukan daya ketika dirawat bersama. Seperti cakra manggilingan, kebudayaan terus bergerak dan berubah. Melalui se.daya.di, kami ingin mengajak dan mempertemukan berbagai gagasan, praktik, dan pengetahuan agar tumbuh menjadi daya yang membawa berkah bagi kehidupan bersama," sela Paulus Mintarga, penggagas se.daya.di.surakarta.

Pekan se.daya.di.surakarta menghadirkan tujuh program utama: se.daya.di.weliness, se.daya.di.pasar, se.daya.di.pagelaran, se.daya.di.lokakarya, se.daya.di.pameran, se.daya.di.boga, dan se.daya.di.forum. Bagi Direktur Program se.daya.di.surakarta, Nanang Musha, seni, budaya, dan tradisi tidak hanya hadir dalam karya atau pertunjukan, tetapi juga dalam praktik keseharian dan cara masyarakat berinteraksi.  Perspektif ini diterjemahkan ke dalam tujuh program yang menawarkan beragam pengalaman, mulai dari wellness dan pasar kreatif hingga pertunjukan.

Selanjutnya juga digelar  lokakarya, pameran, kuliner, dan forum diskusi. Melalui se.daya.di.wellness, publik diajak merawat keseimbangan diri melalui praktik tubuh, refleksi, dan pengalaman kolektif. Salah satunya melalui praktik Jawawellness dari Atsiri Jawa yang memperkenalkan keselarasan wiraga, wirama, dan wirasa. Se.daya.di.pasar menghadirkan Pasar-pasaran dengan lebih dari 50 tenant yang terdiri atas pelaku kuliner, UMKM, artisan, creative makers, dan brand lokal. se.daya.di.pagelaran mempertemukan 16 penampil dari ranah musik, tari, teater, wayang, dan seni pertunjukan.

Sementara itu, se.daya.di.lokakarya menghadirkan 15 sesi yang membuka kesempatan bagi publik untuk mengeksplorasi praktik, mencoba hal baru, dan bertukar pengetahuan. Pada se.daya.di.pameran, sebanyak 17 seniman dan kolektif menampilkan karya serta praktik yang berangkat dari seni, tradisi, teknologi, pengetahuan lokal, dan keseharian. Dua program lainnya, se.daya.di.boga dan se.daya.di.forum, membuka ruang untuk mengenal praktik pangan dan kuliner serta membahas beragam gagasan dan isu yang berkaitan dengan kehidupan seni dan budaya. (Hong)