Prof Dr Nanik Suhartatik, Dikukuhkan
sebagai Guru Besar Unisri Solo ke – 8 Unisri, Solo
SOLO,
JURNALKREASINDO.com -Nanik Suhartatik meraih gelar profesor bidang
mikrobiologi pangan. Dengan predikat itu, Prof Dr Nanik Suhartatik menjadi guru
besar ke-8 di Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta. Perempuan kelahiran
1 Januari 1978 itu menyelesaikan studi program sarjana (S1) di Universitas
Gajah Mada jurusan / Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP)
di Fakultas Teknologi Pertanian.
Demikian juga dengan program S2 (master) dan S3 (Doktor)
juga diselesaikan di UGM Yogyakarta, dengan konsentrasi mikrobiologi pangan.
Saat ini Prof Dr Nanik Suhartatik menjabat Dekan Fakultas Teknologi dan
Industri Pangan (FATIPA), sekaligus anggota senat Unisri Surakarta. Dalam
pengukuhannya yang akan dilaksanakan 15 April 2026 di kampus Unisri Surakarta,
orasi ilmiah Prof Dr Nanik Suhartatik menyoroti program Makan Bergizi Gratis
(MBG).
Program Presiden Prabowo Subianto itu sampai saat ini masih terus
menjadi perhatian publik.Ia mengatakan, kasus-kasus keracunan pangan yang
terjadi dalam pelaksanaan program MBG di berbagai daerah menunjukkan adanya
kelemahan dalam pengendalian mutu dan keamanan pangan. Secara umum, terdapat
beberapa faktor utama yang menjadi penyebab. Pertama, kualitas bahan baku yang
tidak sesuai standar.
Misalnya, penggunaan bahan pangan yang sudah tidak segar
atau terkontaminasi sejak tahap penerimaan. Kedua, sanitasi peralatan dan
lingkungan produksi yang kurang memadai, sehingga memungkinkan terjadinya
kontaminasi silang antara bahan mentah dan produk jadi. Ketiga, higienitas
pekerja yang tidak terjaga, baik karena kurangnya pelatihan maupun lemahnya
disiplin dalam menjaga kebersihan personal.
Keempat, pengendalian proses teknis yang tidak konsisten,
seperti suhu memasak yang tidak mencapai titik aman atau penyimpanan yang tidak
sesuai dengan karakteristik bahan pangan. Kelima, pengemasan dan distribusi
yang tidak higienis, termasuk kendaraan distribusi yang tidak bersih atau tidak
dilengkapi fasilitas rantai dingin untuk produk yang mudah rusak. "Kombinasi
dari faktor-faktor tersebut memperlihatkan terjadinya keracunan pangan”
tandasnya
Bukanlah akibat dari satu kesalahan tunggal, melainkan hasil
dari serangkaian kelalaian dalam penerapan prinsip CPPOB. Dikatakan, program
pengendalian potensi bahaya dalam industri pangan dapat dilakukan dengan
merujuk pada pedoman HACCP, sistem manajemen keamanan pangan yang dilakukan
dengan cara mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan bahaya yang
signifikan bagi keamanan pangan.
Cemaran Fisik
Bahaya ini mencakup cemaran fisik, biologis ataupun fisik
yang mungkin muncul sepanjang rantai produksi pangan. HACCP digunakan sebagai
acuan untuk memproduksi pangan yang aman, terutama untuk program pemberian
makan siang gratis kepada peserta didik36. Untuk mencegah terulangnya kasus keracunan dalam program MBG, diperlukan
langkah-langkah perbaikan yang menyeluruh dan berkesinambungan.
Pertama, penguatan sistem pengadaan bahan baku melalui
seleksi pemasok yang memiliki sertifikasi keamanan pangan serta penerapan standar
pemeriksaan mutu yang ketat. Kedua, peningkatan sanitasi fasilitas dan
peralatan produksi, dengan jadwal pembersihan yang terstruktur dan penggunaan
material yang sesuai standar higienitas. Ketiga, program pelatihan
berkelanjutan bagi tenaga kerja.
Hal ini agar setiap individu memahami pentingnya higienitas
personal dan disiplin dalam menjalankan prosedur produksi. Keempat, pengendalian proses teknis secara
konsisten, termasuk penggunaan alat ukur suhu dan waktu yang terkalibrasi untuk
menjamin keamanan pangan. Kelima, penguatan sistem pengemasan dan distribusi,
dengan memastikan rantai dingin berjalan efektif serta kendaraan distribusi
memenuhi standar kebersihan.
Terakhir, penerapan dokumentasi dan audit internal yang
transparan, sehingga setiap tahapan produksi dapat ditelusuri dan diperbaiki
bila ditemukan kelemahan. "Dengan kombinasi langkah-langkah tersebut,
program MBG tidak hanya mampu menyediakan pangan bergizi, tetapi juga menjamin
keamanan konsumsi, sehingga tujuan meningkatkan kualitas gizi anak bangsa dapat
tercapai secara berkelanjutan," pungkasnya.( Her)


