Jilid Dua - RAJA PB XII MATI- MATIAN MENDUKUNG NK RI YANG BARU MERDEKA, NAMUN MENGAPA KRATON KASUNANAN SURAKARTA DIPERLAKUKAN BEGINI








Jilid Dua - RAJA PB XII  MATI- MATIAN 

MENDUKUNG NK RI YANG BARU MERDEKA, NAMUN MENGAPA KRATON KASUNANAN SURAKARTA DIPERLAKUKAN BEGINI


by A.H Wartono


SOLO (JURNALKREASINDO.COM)-Pakubuwono XII lahir di Surakarta pada Selasa Legi tanggal 14 April 1925, dan diangkat menjadi raja di Keraton Surakarta pada usia yang sangat muda yaitu usia 20 tahun. Beliau juga dikenal dengan raja tiga jaman dengan lama memimpin 48 tahun. Atas pengabdiannya bagi Indonesia, maka Pakubuwana XII diberikan piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan '45 yang ditetapkan oleh Dewan Harian Nasional Angkatan-45 di Jakarta. Piagam merupakan bukti kesetiaannya kepada Negara Kesatuan RI dan atas nasionalisme yang dalam masa perjuangan kemerdekaan. 
Peran PakuBuwono XII antara lain mengorbankan kekayaan keraton Surakarta yang dimilikinya seperti emas dalam jumlah  sangat banyak, bahkan menyebabkan Keraton sendiri mengalami defisit. 
Dalam catatan Jurnal mengutip buku "Suara Nurani Keraton Surakarta" (Peran Keraton Surakarta dalam Mendukung dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia ) oleh Dr Sri Juari Santosa setidaknya ada bantuan kemanusiaan. Selama masa revolusi Kraton Surakarta selalu memberikan bantuan materiil baik berujud uang, maupun barang baik diberikan kepada Komando Staf Divisi II di Surakarta. Selain itu memberikan bahan makanan dan bahan pakaian kepada penduduk
yang tidak mampu.












Membantu para pejuang dengan keluarganya dengan pasokan uang. Agar tidak menimbulkan kecurigaan Belanda, para pejuang diberi status penduduk yang memerlukan bantuan.
Kraton Surakarta juga cancut taliwanda dengan merawat para korban pertempuran. Beberapa kali PB XII secara pribadi menengok pejuang yang cidera atau dirawat di rumah sakit akibat ganasnya peperangan Republik yang baru berdiri melawan tentara kolonial.
Medan pertempuran yang dipasok bantuan tidak hanya di Surakarta dan sekitarnya. Bahkan saat pertempuran heroik di Surabaya, Kraton Surakarta mengirim makanan maupun obat-obatan untuk membantu para pejuang.
Berbagai mobil yang semula milik Kraton Surakarta seperti mobil Plymouth, Chevrolet , Ford , Kuda dan sejumlah uang bahkan senjata dan amunisi disumbangkan kepada pihak Republik Indonesia.
Peran Kraton Surakarta di bawah kendali PB XII
adalah melibatkan diri dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar. Paku Buwono XII juga terjun dalam revolusi fisik.
Sebagai raja kraton Surakarta  keturunan jagoan perang seperti pendahulunya Sultan Agung Hanyokrokusumo, PB XII tidak hanya lenggah siniwaka tunggu laporan.

PB XII Mengepung Markas Kompetai

PB XII juga bergerilya bahkan ikut bertempur saat revolusi dengan mengepung markas Kompetai Jepang di kawasan Timuran (hotel Cokro.Red) . PBXII bersama pemuda yang tergabung dalam  Komite Nasional Indonesia (KNI) berhasil melucuti senjata serdadu Jepang baik Kompetei dan Kidobutai yang bermarkas di Mangkubumen Solo.


Dukungan kepada NKRI yang tak ternilai harganya ini yang disusul dengan sejumlah peristiwa politik lainnya termasuk munculnya gerakan anti-swapraja yang membuat Keraton Surakarta terpuruk secara ekonomi hingga kesulitan untuk mendanai kegiatan-kegiatan internalnya sendiri.
Raja PB XII di akhir hayatnya sempat gamang dengan keberlanjutan dinasti Kraton Surakarta. Kepada
doktor Gede Putu Wiranegara yang mewawancarainya untuk disertasi di Institut Seni Surakarta (ISI) PB XII sempat menyatakan kegundahannya dengan masa depan Kraton Kasunanan Surakarta.
Sang raja menampakan kegundahan besar untuk melestarikan tradisi keraton tanpa ada sumber dana memadai.
Terselip juga pemikirannya tentang suksesi setelah dia mangkat.
Suksesi kepemimpinan Keraton Kasunanan Surakarta usai Paku Buwono (PB) XII yang wafat pada 2004 masih menjadi pertanyaan bagi sebagian orang hingga kini. Mengapa PB XII tidak menunjuk penggantinya baik tersurat maupun tersirat seperti saudaranya Hamengku Buwono IX yang memberikan keris piandel Kasultanan Yogya kepada putranya Mangkubumi yang kini bergelar Hamengku Buwono X.

PB XII kepada  doktor Gede Putu Wiranegara
ketika ditanya
terkait siapa raja selanjutnya. PB XII mengatakan belum mendapatkan petunjuk dari Tuhan.
"Saya tidak boleh istilahnya nggege mangsa (mendahului kehendak) minta jawaban dari Tuhan. Berarti Tuhan masih membutuhkan hidup saya sebagai Sinuhun (sebutan raja). Tapi mungkin suatu saat kalau saya tidak lengah, Tuhan memberikan isyarat," kata PB XII seperti dalam disertasi yang telah di film kan  itu. (A.H.Wartono).