Ironis ! Solo Kota Budaya Tanpa Gedung Kesenian, BRM Dr Kusumo Putro : Pemkot Harus Merealisasikan Pembangunanya

BRM. Dr. Kusumo Putro, SH.MH, ketika memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Kantornya. 

SOLO, JURNALKREASINDO.com -  Ironis memang, Kota Solo yang mendapatkan sebutan kota seni dan budaya, tetapi tidak memiliki gedung kebudayaan yang representatif, untuk itu Pemeritah Kota (Pemkot) Surakarta  harus segera membangunya. Ungkapan itu diutarakan  Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM), Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H kepada sejumlah wartawan beberapa waktu lalu. “Kami mendesak Pemkot Surakarta untuk segera merealisasikan pembangunan gedung kesenian yang representatif” tandasnya

Tidak adanya gedung kesenian permanen, katanya,  telah menempatkan Solo dalam kondisi ‘krisis identitas’. Ia menilai ironis jika sebuah kota yang mendunia lewat budayanya justru tidak memiliki wadah fisik yang layak bagi para seniman untuk berkarya, berlatih, dan menampilkan pertunjukan secara profesional. “Gedung kesenian bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup masyarakat seni. Tanpanya, ekosistem budaya kita terancam stagnan,” ujarnya

Desakan FBM muncul, akibat semakin langkanya ruang pertunjukan yang memenuhi standar teknis dan artistik di Solo. Selama ini, banyak pagelaran seni harus berpindah-pindah atau menggunakan fasilitas yang kurang memadai, yang pada akhirnya membatasi kualitas produksi dan apresiasi publik. Sehubungan dengan itu, sebagai ketua FBM, Kusumo  menekankan bahwa pembangunan gedung kesenian sudah masuk tahap sangat mendesak.

Hal ini sejalan dengan upaya revitalisasi kawasan Taman Sriwedari yang terus digalakkan Pemkot Solo, namun dinilai perlu diperkuat dengan adanya infrastruktur inti berupa gedung pertunjukan seni yang permanen. Sementara itu Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, sebelumnya telah menyampaikan komitmennya,  terkait pengembangan infrastruktur budaya dalam Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026.

Belum Terealisasi

Tetapi sampai sekarang belum terealisasi, maka FBM berharap komitmen tersebut segera diterjemahkan menjadi aksi nyata berupa alokasi anggaran dan percepatan proses perencanaan teknis. Pembangunan gedung kesenian diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga sebagai pusat dokumentasi, pendidikan seni, dan inkubator bagi talenta muda Solo. Dengan demikian, warisan budaya dapat lestari sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Atas harapan itu, Pemkot Solo belum memberikan tanggapan resmi terkait timeline pasti pembangunan gedung kesenian tersebut. sehungga masyarakat dan pegiat seni, hanya mampu berharap langkah konkret Pemkot Surakarta. Untuk itu, Kusumo sebagai pemerhati kebudayaan Mendesak terwujudnya Pembangunan Gedung Kesenian itu. “Jadi bukan hanya atas dasar aspirasi masyarakat saja, tetapi juga akan menjadi cermin Solo sebagai Kota Budaya” tuturnya

Terlebih di tengah krisis identitas bangsa seperti sekarang ini, budaya baik seni dan kearifan harus di bangun dan dijaga keberlangsunganya, agar para generasi muda tetap memiliki karakter jatidiri sebagai generasi yang berbudi pekerti luhur. Solo sebagai Kota Budaya – Tidak bisa di lepaskan dari sejarah panjang bahwa peradaban yang berakar pada budaya jawa di Nusantara, dengan adanya dua pewaris dinasti Mataram Islam yaitu, Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang sampai saat ini masih lestari di Kota Surakarta. (Hong)