Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Adimas, Melestarikan Tradisi Trah Dinasti Mataram

 

R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti didampingi  K.P.H. Drs. Tjuk Susilo, MPA, ketika memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan. 

SOLO, JURNALKREASINDO.com – Pura Mangkunegaran mulai besuk Selasa (3/11/2026) bakal menggelar prosesi ritual  Hajad Dalem Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo ( Gusti Sura) dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian. Rangkaian Dhaup Ageng itu mengikuti  tata cara yang telah diwariskan para leluhurnya, Trah Disnasti Mataram yang terdiri dari Keraton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Jogyakarta, Pura Mangkunegaran dan Pakualaman.

Ungkapan itu diutarakan R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti didampingi  K.P.H. Drs. Tjuk Susilo, MPA, saat jumpa pers,  pada Senin (2/11/2026) di Candi Ratna, Pura Mangkunegaran. “Rangkaian ritual Dhaup Ageng, tersebut mengikuti tata cara yang pernah dilakukan secara turun temurun dari Catur Sagrata, sebagai upaya melestarikan tradisi dan budaya sesuai pakem, kalau toh ada perubahan itu merupakan tambahan saja” ujar Tjuk Susilo

Acara dhaup ageng tersebut akan berlangsung sampai, Sabtu ( 7 / 11/2026), Hajad Dalem Dhaup Ageng keluarga Pura Mangkunegaran itu menandai babak baru bagi kedua mempelai sekaligus pertemuan dua keluarga, yang dijalankan melalui tradisi Mangkunegaran yang a terus dipahami,dipraktikkan, dan diwariskan lintas generasi. Diketahui,  Gusti Sura merupakan putri dalem K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX dan kakak dari Pengageng Mangkunegaran KGPA.A Mangkoenagoro X.

Perjalanan Gusti  Sura dan Kanjeng Adimas menuju kehidupan rumah tangga akan disertai rangkaian tata cara yang  sakral dan penuh dengan umbul donga dan harapan restu kedua keluarga, serta nilai-nilai menuju kehidupan keduanya kedepan.  “Sebagai ungkapan syukur keluarga serta membagikan  kebahagiaan bersama masyarakat, melalui Kirab Pengantin pada 7 November dan Mangayubagyo Dhaup Ageng di Pamedan Pura Mangkunegaran” tambahnya

Kedua rangkaian tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk turut menyambut perjalanan baru kedua mempelai dan menyampaikan pangestu. Dhaup Ageng merupakan hajat keluarga yang menandai perjalanan baru dua insan dan dua keluarga.Setiap tata cara dijalankan sebagai wujud doa, restu, dan tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang diwariskan. “Kami berharap masyarakat juga dapat turut menyambut dan memberikan pangestu “ sela R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti

Prossi Dhaup Ageng

Lebih jauh  Tjuk Susilo menyampaikan,  tradisi Dhaup Ageng pernah di gelar di Pura Mangkunegaran Pernikahan Gusti Nurul, putri tunggal dari KGPAA Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur, dilangsungkan pada 24 Maret 1951 (beberapa catatan menyebutkan 1954). Ia menikah dengan Raden Mas Soejarwo Soejosoerarso (populer dipanggil Suryo Surarso atau KPH Soeryosurarso), seorang perwira militer lulusan Belanda yang kelak menjadi salah satu pendiri Akademi Militer Nasional (AMN).

Tradisi yang Menyertai Perjalanan Kedua Mempelai Rangkaian diawali dengan Sengkeran pada 3 November 2926 ini. selanjutnya pada 4 November, keluarga melaksanakan pemasangan Bleketepe dan Tuwuhan, Adang Sepisan, serta Nyantri. Berikutnya, pada 5 November dengan Langkahan, Siraman, Dodol Dawet, dan Midodareni. Dhaup Suci dan Panggih dilaksanakan pada 6 November, dilanjutkan dengan Pahargyan di Pendapa Ageng. Pada 7 November, Kirab Pengantin akan diselenggarakan sebelum Pahargyan berikutnya.

Setiap prosesi membawa makna yang berkaitan dengan doa restu keluarga, kesiapan lahir dan batin, penerimaan kedua mempelai dalam keluarga, serta tanggung jawab dalam menjalani kehidupan rumahtangga. Seluruh rangkaian dijalankan oleh keluarga bersama para abdi dalem, seniman, perajin, dan berbagai pihak yang menjaga makna serta ketelitian di balik setiap tata cara. Pertama, Seni pertunjukan dan busana menjadi bagian yang menyatu dengan tata cara Dhaup Ageng.

Tari Klasik Gaya Mangkunegaran

Kedua, tari klasik gaya Mangkunegaran dan alunan gamelan akan mengiringi sejumlah rangkaian. Ketiga, prosesi Panggih, kedua mempelai akan mengenakan Dodot Ageng Bango Buthak, sedangkan busana Kasatriyan akan dikenakan dalam Kirab Pengantin dan Pahargyan pada 7 November. Seni pertunjukan dan busana menjadi bagian yang menyatu dengan tata cara Dhaup Ageng. Tari klasik gaya Mangkunegaran dan alunan gamelan akan mengiringi sejumlah rangkaian.

Keempat,  prosesi Panggih, kedua mempelai akan mengenakan Dodot Ageng Bango Buthak, sedangkan busana Kasatriyan akan dikenakan dalam Kirab Pengantin dan Pahargyan pada 7 November. Setiap unsur tersebut membawa simbol, tata laku,dan nilai yang menjadi bagian dari tradisi Mangkunegaran. Kirab Pengantin merupakan bagian dari tata cara Dhaup Ageng yang membawa kedua mempelai hadir dan menyapa masyarakat setelah menjalani rangkaian pernikahan.

Dalam tradisi Mangkunegaran, kirab menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya, sekaligus memberi ruang bagi masyarakatuntuk turut menyambut dan menyampaikan pangestu bagi kedua mempelai. Kirab akan dilaksanakan pada Sabtu, 7 November, mulai sekitar pukul 16.00 WIB. Kedua mempelai akan mengikuti kirab dalam iring-iringan yang disertai barisan bregada dan unsur seni Mangkunegaran.

Ungkapan Syukur Keluarga

Susunan iring-iringan, busana, musik, dan tata laku yang menyertainya merupakan bagian dari tradisi yang dijaga dan diteruskan lintas generasi. Informasi final mengenai rute kirab dan pengaturan lalu lintas akan disampaikan melalui kanal resmi Mangkunegaran dan pihak berwenang. Masyarakat dipersilakan menyambut kirab di sepanjang rute yang telah ditentukan dengan tetap mengikuti arahan petugas, demi menjaga ketertiban, keamanan, dankekhidmatan seluruh rangkaian.

Sebagai ungkapan syukur keluarga, Mangkunegaran menyelenggarakan Mangayubagyo Dhaup Ageng pada 6–8 November 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran. Bertajuk Srawung Kabagyan, atau perjumpaan untuk berbagi kebahagiaan, rangkaian ini membawa semangat Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu. Masyarakat diajak untuk turut berbahagia, menyampaikan selamat dan doa, serta memberikan pangestubagi perjalanan baru kedua mempelai.

Salah satu wujudnya adalah Segahan Pahargyan Dhaup Ageng, yaitu jamuan yang dibagikan kepada masyarakat dari lima kecamatan di Surakarta serta sejumlah yayasan sosial, termasuk panti asuhan dan panti wreda. Jamuan disiapkan bagi sekitar 2.000 orang setiap hari dengan melibatkan pelaku UMKMsetempat. Jamuan tersebut merupakan ungkapan keramahan dan rasa syukur keluarga, sekaligus mencerminkan hubungan yang telah lama terjalin antara Mangkunegaran dan masyarakat Solo.

Seni dan Budaya

Kebersamaan tersebut juga diiringi dengan sajian seni dan budaya, antara lain persembahan dari lima kabupaten yang memiliki keterhubungan sejarah dan b udaya dengan Mangkunegaran, tarian Langenpraja, pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional, serta persembahan seni Eko Pece dan tim. Kehadiran berbagai pelaku seni ini memperlihatkan bagaimana tradisi terus dihidupkan dan diteruskan melalui karya serta keterlibatan masyarakat. Masyarakat dipersilakan menyampaikan ucapan selamat, doa, dan harapan melalui Buku Pangestu, Pohon Pangestu, dan Suwanten Pangestu.

Seluruh pesan tersebut akan dihimpun dan disampaikan kepada kedua mempelai sebagai titipan doa dan pangestu bagi kehidupan rumah tangga mereka. “Mangayubagyo menjadi ruang perjumpaan keluarga dan masyarakat dalam rasa syukur dan kebahagiaan.Setiap jamuan yang dibagikan, kebersamaan yang terjalin, serta pangestu yang disampaikan dari doa yang mengiringi perjalanan baru kedua mempelai,” tutur R.Ay.T.Ayu Rosetyastuti.  (Hong)